Merintih
di antara semak-semak duri, luka kita buka berkali-kali
Berbisik
di antara seribu bahasa, tak pernah mengerti jua
Butuh
apa?
Di bukit itu, sejauh mata memandang ialah kemegahan bintang dan bulan
- gelap bukan halang rintang menghadang -
Sudah kusiapkan, kasih, jeritan
beribu puisi dan sumpah serapah untuk membuang segala gelisah
cari cerah
supaya kau tahu
Tapi mengapa jua bisu?
Menggelepar, sungai berdarah-darah kena luka rinduan hati
Terlalu mudah kau terima cintaku, aku mati beku
Senin, 14 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar