Lagi-lagikah, aku ingat rupamu yang dulu
Sungai belah kasih mengalir tulus, tanpa deru memecah
Semakin terpecah, kian waktu membelah
Aku rindu
Aliran air kan terus membawah, dan waktu berdarah-darah
Semakin terpecah, lupakah?
Lagi-lagi, rupamu kawan, tersimpan
Hati mematah, sebab sungai telah bererosi, dan tak mungkin
waktu berhenti...
Mengapa aku tidak pergi saja sekarang
menempuh salah satu jalan!
Terbang! Si pungguk terbang!
Cari gairah malam!
Mengapa aku tidak hilang
hilang!
dan tidak sesuatupun mau tahu dan peduli
Biar saja gila. Biar saja jatuh. Menggelepar, dan akhirnya toh mati.
Aku buta mata, hilang suara, tuli bicara.
Aku mati jiwa
mati semua
cinta itu juga pecah, jatuh ....
Hancur total
Semua binasa
Peduli? Tiada! Tak juga mereka.
Asa itu apa.... asa itu dimana
Hilang... asap melayang!
Maumu apa? Menggapai bintang?
Dia jauh, coba kuraih secercah cahaya
cuma bayangan
cuma bayangan
Sayapku pecah, si pungguk jatuh terbayang
Asa itu apa, asa itu dimana?
Si pungguk jatuh
Tolonglah!
Aku binasa jiwa
Tolonglah!
Aku hancur cinta
Tolonglah!
Tak ada minat dengan udara, capai aku capai meraih khayal
khayalan meracuniku sedikit demi sedikit
meracuniku dengan iba yang dosisnya bertambah
Mereka tertawa
Aku?
Binasa.
Hilang semua, semua hilang ... total
Selamat tinggal
Senin, 14 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar